Weekly News

Timnas Indonesia Dipermalukan Timor Leste 0-2

Minggu, 26 September 2010 19:20 WIB
Solo (ANTARA News) – Tim Nasional Usia 16 Tahun dipermalukan kesebelasan timor Leste dengan skor 0-2 pada ASEAN Football Federation U-16 Championship 2010 di Stadion Manahan Solo, Minggu sore.

Gol Tim Timor Leste tercipta pada menit ke-49 babak kedua oleh Fedel Santos De Araujo dan kedua oleh Rogerio Sarmento Seran menit ke-56 babak kedua sehingga kedudukan 0-2 untuk kesebalasan yang dijuluki “Lafaek”.

Pertandingan antara Timnas Indonesia melawan Timor Leste yang merebutkan posisi ketiga tersebut berlangsung seru dan disaksikan ratusan penonton pendukung tuan rumah maupun tim tamu.

Tim Timor Leste sejak babak awal melakukan gebrakan menekan pertahanan Timnas yang dimotori Purwa Putra sehingga pertahanan Timnas dibuat bekerja keras untuk menghadang serang lawan.

Tim Timor Leste yang dikapteni Nicolau Fernandes bermain menyerang sehingga beberapa kali penyulitkan kiper Indonesia yang dijaga Achmad Risky Kurniawan harus berjibaku untuk menyelamatkan gawangnya.

Peluang Tim Timor Leste yang kesempatan meraih gol terjadi kelima tendangan keras nomor punggung sembilan Nidio, tetapi tendanganya dapat diblok kiper Achmad Risky Kurniawan sehingga kedudukan tidak berubah tetap 0-0.

Bahkan, pemain Timor Leste Riqqi Z. Bin Salim Attamimi pada menit ke-12 yang mendapat umpan dan masuk dipertahanan lawan, tetapi tendangan berhasil ditangkap kiper Timnas.

Sebaliknya, Timnas sempat mendapatkan dua peluang emas pada babak pertama menit ke-15, tetapi tembakan keras pemain depan Indonesia, Ricky Alfian, menyamping kanan beberapa sentimeter dari gawang Timor Leste yang dipercayakan oleh Ramos Maxanches yang bermain tenang.

Selain itu, Timnas besutan pelatih nasional Mundari Karya tersebut juga mempunyai peluang pada menit ke-19 melalui tendangan Ricki Bardes Leurama yang bolanya menyusur tanah. Namun sayang, bolanya membentur gawang Timor Leste sehingga kedudukan tidak berubah tetap 0-0 hingga babak kedua berakhir.

Memasuki babak kedua Timnas mulai berani untuk mengambil inisiatif serangan dengan memasukan dua pemain pengganti Hadi Wibowo masuk menggantikan Maldini dan Abdul Mutoleb menggantikan Reynaldi Junior.

Namun, Tim Timor Leste yang bermain ulet dan memanfaatkan lebar lapangan tersebut justru merepotkan perthanan Timnas.

Tim Timor Leste berhasil memanfaatkan peluang saat Timnas kelihatan staminanya menurun dengan menekan memainkan umpan-umpan pendek hingga ke pertahanan lawan.

Bahkan, Timor Leste berhasil menciptakan gol pada menit ke-49 melalui serangan balik dengan cepat pemain nomor punggung 12 Fedel Santos De Araujo.

Fedel yang berdiri bebas tidak ada kawalan di depan gawang Timnas. Dengan tendangan kaki kanannya bola menyusur tanah melesat masuk gawang Achmad sehingga kedudukan berubah 0-1 untuk Timor Leste.

Timnas yang ketinggalan gol dari Timor Leste berusaha untuk mengejar ketinggalan. Namun, karena kondisi stamina yang kurang prima, maka Purwa Putra dan kawan kawan sering kalah rebutan bola dengan lawan.

Bahkan, Tim Timor Leste justru menambah gol pada menit ke-56 setelah pemainnya Rogerio Sarmento yang berhasil lolos melewati dua pemain belakang Timnas yang dengan mengecoh kiper Achmad Risky Kurniawan. Bola pun melesat masuk gawang Indonesia sehingga berubah kedudukan menjadi 0-2 untuk Timor Leste.

Satu-satunya peluang emas Timnas yang dapat menciptakan gol terjadi pada menit ke-73 melalui sundulan kepala pemain pengganti Abdul Mutoleb.

Namun, Abdul Mutoleb yang menerima umpan bola lambung ke depan mulut gawang Timor Leste itu, tandukannya berhasil ditangkap kiper Ramor yang bermain cemerlang.

Pertandingan antara Timnas melawan Timor Leste tersebut tetap bertahan 0-2 hingga wasit yang memimpin pertandingan Sipaseuth Sinbandith asal Laos meniup peluit panjang tanda babak kedua berakhir.

Wasit Sipaseuth Sinbandit dalam pertandingan tersebut menghadiahkan dua kartu kuning untuk Antoni Putro Nugroho dan Purwa Putra (Indonesia), sedangkan Jose Carlos Fonseca (Timor Leste) mendapatkan kartu merah pada menit-menit terakhir babak kedua karena memperoleh akumulasi dua kartu kuning.

Pelatih Timnas Mundari Karya mengakui tim memiliki stamina yang buruk karena dalam pertandingan ini hanya bisa istirahat satu hari sehingga mereka kelelahan.

Selain itu, kata Mundari, pemainnya banyak yang cedera. Akan tetapi, mereka tetap ikut bertanding, sementara pemainpengganti belum bisa menyesuaikan diri dengan pemain inti.

Pelatih Timor Leste Kim Shin Hwan asal Korea mengatakan timnya bermain lepas. Mereka dapat memanfaatkan peluang untuk menciptkan gol untuk timnya.

“Tim kami tidak main maksimal karena banyak pemain yang cedera,” kata Kim.
(B018/D007)

Mahasiswa Dili Tolak Mobil Mewah untuk Parlemen
Selasa, 10 Juni 2008 | 16:58 WIB

TEMPO Interaktif, Dili: Para pelajar dan mahasiswa Timor Leste hari ini memberi ultimatum kepada Parlemen Nasional untuk membatalkan rencana pembelian 65 mobil mewah merek Toyota Prado hingga besok.

Bila tuntutan itu tak diindahkan, mereka mengancam akan mengelar demonstrasi besar-besaran di Kota Dili pada Kamis ini untuk menuntut keadilan bagi rakyat. Mereka menilai parlemen lebih mengedepankan kepentingan pribadi dan tak menghiraukan nasib rakyat yang kini mengalami krisis pangan.

“Sebaiknya niat anggota parlemen untuk membeli mobil itu ditangguhkan dulu dan lebih memikirkan bagaimana mengatasi masalah kenaikan harga barang saat ini. Anggota parlemen tidak boleh menjadi kaya di atas penderitaan rakyat,” kata Carolino da Costa, Ketua Komisi Front Mahasiswa Timor Leste.

Parlemen berencana untuk membeli mobil mewah untuk 65 wakil rakyat yang telah mengabdi selama lima tahun. Masing-masing wakil rakyat itu juga akan mendapat laptop. Minggu depan, paket pertama pembelian itu, berupa 27 mobil, akan tiba di Dili.

Meski diprotes, Ketua Parlemen Nasional Fernando Lasama de Araujo menyatakan bahwa mereka akan tetap membeli mobil itu. Menurutnya, para wakil rakyat itu telah bekerja untuk rakyat, sehingga pantas menggunakan mobil dan membawa negeri ini maju ke depan.

Lasama mengingatkan para pelajar untuk tidak mengancam parlemen, karena dana pembelian mobil itu sudah termasuk dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun 2008, sehingga tidak akan dibatalkan. Dia juga mengingatkan agar para pelajar tidak melakukan kekerasan ketika mengelar demonstrasi.

Dua Pemuda Timor Leste Dideportasi

Jum’at, 30 Mei 2008 – 16:19 wib
SALATIGA – Dua pemuda asal Timor Leste yang kini tinggal di Salatiga, yakni Nevi Cordoso Fernandes (22) dan Segisnando Nogiuveira (21), malam ini dideportasi ke negaranya.

Mereka harus meninggalkan Indonesia karena masa berlaku ijin tinggalnya telah kadaluarsa. Nevi Cordoso merupakan mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga jurusan Teknik Informatika Semester III. Sementara, Segisnando Nogiuveira masih duduk di bangku Kelas XII SMA Tunas Harapan Salatiga. Keduanya datang ke Salatiga pada Mei 2007 lalu.

Nevi menjelaskan, kedatangannya ke Indonesia menggunakan visa turis yang masa berlakunya berakhir pada Februari kemarin. Mereka juga sudah mengurus perpanjangan visa sejak Juni 2007, akan tetapi sampai sekarang belum juga ada kejelasan. Dokumen kelengkapan administrasi juga sudah dikirim ke Keduataan Timor Leste di Jakarta. Dokumen ini untuk membuat alih status menjadi Kartu Izin Tinggal Sementara (KITAS).

“Kami sudah menjalankan kewajiban kami sebagai warga Negara asing dengan mengurus semua kelengkapan. Akan tetapi, sampai sekarang belum juga ada kejelasan. Terus terang, kami kecewa karena kondisi ini mengganggu pendidikan kami,” jelas Nevi di kampusnya, Kamis (30/5/2008).

Humas Ikatan Mahasiswa UKSW dari Timor Leste (KASTIL) Fernando Freitas menambahkan, Nevi dan Segisnando tidak dideportasi secara permanen. Mereka akan kembali ke Salatiga setelah semua izin tinggal selesai diurus dan hanya dikenakan Exit Permit Only atau kelebihan masa tinggal.

Sebenarnya, lanjut Fernando, keduanya sudah harus meninggalkan Indonesia sejak Februari lalu. Namun, setelah perwakilan KASTIL melakukan negoisasi dengan pihak imigrasi, keduanya masih diberi kelonggaran waktu untuk mengurus. Sebab, mereka di Indonesia hanya menimba ilmu saja dan bukan untuk kepentingan lainnya.

“Jadi, mereka akan pulang ke Timor Leste sekitar dua pekan. Setelah semua selesai, maka akan kembali melanjutkan pendidikan di Salatiga. Kami tidak tahu, padahal dokumen sudah diserahkan kedutaan (Timor Leste), namun setelah dicek ke Imigrasi dokumen mereka dinyatakan belum masuk,” terangnya.

Dia mengungkapkan, saat mengurus perpanjangan masa tinggal menjadi KITAS, dokumen yang diserahkan tidak hanya milik Nevi dan Segisnando saja, melainkan ada satu mahasiswa Timor Leste lagi yang ikut mengurus, yakni Maria Rita Quentau. Berkas-berkas dokumen milik ketiganya ini dimasukkan dalam satu amplop. Akan tetapi, KITAS untuk Maria sudah keluar pada Desember 2007 lalu.

Saat acara pertemuan mahasiswa Timor Leste dengan Menteri Muda Reformasi Administrasi Timor Leste Florindo Pereira di Gedung G Lt 3 UKSW kemarin, KASTIL meminta supaya permasalahan ini dibawa ke dalam pembahasan Dewan Kabinet Pemerintahan Timor Leste. Menanggapi hal ini, Florindo menyatakan kesiapannya memenuhi aspirasi mahasiswa Timor Leste yang ada di Salatiga itu.

“Kami akan membawa permasalahan ini ke Dewan Kabinet dan mencari tahu di mana sebetulnya letak kesalahan yang mengakibatkan izin tinggal kedua warga kami ini tidak juga keluar. Kami juga akan membawa permasalahan ini ke Dewan Kabinet seperti yang diminta mahasiswa,” jelas Florindo. (Sundoyo/Sindo/fit)

Monday 26 May 2008
Timor Leste Berharap Jadi Anggota ASEAN

Timor Leste berharap dapat bergabung dengan Perhimpunan Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) pada 2012, tetapi bukan sebagai “negara yang ekonominya sangat jelek” yang bisa membuat malu organisasi itu, seperti Myanmar, kata Presiden Jose Ramos Horta.

Berbicara dalam sebuah forum yang diselenggaralan oleh Asosiasi Koresponden Asing di Singapura Sabtu larut malam, Ramos mengatakan negerinya yang berusia enam tahun sedang memperbaiki ekonomi dan institusi-institusinya supaya siap bergabung dengan ASEAN.

Myanmar, yang dulu dikenal dengan nama Burma, bergabung dengan ASEAN pada 1997, namun menjadi anggota kontroversial karena tuduhan pelanggaran hak azasi manusia, termasuk penahanan ikon demokrasi Aung San Suu Kyi dan penyiksaan.

Para jenderal yang berkuasa di Myanmar juga mendapat kritikan karena keenggenannya menerima bantuan kemanusiaan bagi korban topan Nargis yang melanda kawasan Delta Irrawaddy itu.

Tak ada anggota ASEAN yang menentang keanggotaan Timor Leste dan anggota terbesarnya Indonesia telah menugaskan seorang diplomat senior untuk membantu negara muda itu dalam persiapan menjadi anggota, ujarnya.

“Saya harap pada tahun 2012 kami bisa (bergabung dengan ASEAN),” ujarnya. “Kami menetapkan target ini sebagai tekanan pada kami sendiri agar bekerja keras supaya bisa bergabung dengan ASEAN karena jelas negara-negara ASEAN dengan masalah Burma/Myanmar yang memalukan, mereka tak menginginkan sebuah negara yang ekonominya sangat jelek, sebuah anggota baru yang tak stabil,” katanya. “Maka kami harus kerja keras.” (sumber : http://www.harian-global.com)

20/05/2008 12:56 WIB
Merah Putih di Hari Kemerdekaan Timor Leste dari RI
Arfi Bambani Amri – detikcom

Dili – 20 Mei bukan saja istimewa bagi Indonesia. Hari ini, Timor Leste juga memperingatinya sebagai Hari Kemerdekaan dari Indonesia!

Peringatan 6 tahun kemerdekaan ini diperingati Timor Leste dengan menggelar pasukan kehormatan di Istana Pemerintah. Selain bendera Timor Leste yang melihatkan merah dan hitam yang disinari matahari, juga tampak sejumlah bendera negara-negara lain termasuk bendera merah putih berkibar.

“Pada hari kemerdekaan ini, kita akan menjaga perdamaian di negeri ini, memerangi kemiskinan dan menjaga persatuan nasional. Ini kewajiban setiap rakyat,” kata Presiden Timor Leste, Jose Ramos Horta, dalam pidatonya di Istana Pemerintahan, Dili, seperti dilansir AFP, Selasa (20/5/2008).

Horta kemudian meninjau pasukan kehormatan melalui atap jip. Tampak sejumlah pasukan penembak jitu berjaga di atap Istana Pemerintahan Dili.

Peringatan kemerdekaan ini hanya berselang 3 bulan setelah Horta hampir mati ditembak pada 11 Februari 2008 lalu. Sejak itu, pengamanan negara termuda di Asia itu diperketat.

“Apa yang terjadi pada 11 Februari menunjukkan lembaga negara di negara kita masih lemah. Namun perayaan ini menunjukkan bahwa setelah 6 tahun kita telah meraih banyak hal,” lanjut Horta.

Anak-anak lalu melantunkan lagu-lagu nasional Timor Leste. Pemimpin gereja Katolik kemudian menganugerahkan penghargaan pada 1.500 veteran perjuangan kemerdekaan melawan Indonesia. ( aba / fay )

Indonesia Deportasi Empat Anggota Tentara Timor Leste

05/05/2008

Indonesia hari Senin mendeportasi empat anggota tentara Timor Leste yang memberontak ke Timor Leste. Mereka dituduh terlibat percobaan pembunuhan presiden Ramos Horta bulan Februari lalu.

Jaksa Agung Timor Leste, Longuinhos Montero menjelaskan kepada wartawan hari Senin ke-empatnya besar kemungkinan akan dituduh mencoba melakukan pembunuhan dalam penembakan atas diri Presiden Horta. Horta luka parah dalam percobaan tanggal 11 Februari itu di halaman rumahnya dan kemudian menghabiskan waktu lebih dari dua bulan berobat dan sembuh di Australia setelah menjalani beberapa pembedahan.

Pada hari sama Perdana Menteri Xanana Gusmao luput tanpa sesuatu apa dari percobaan serupa.

Deportasi atas ke-empat pemberontak dilakukan kurang dari sepekan setelah seorang pemimpin militan dan 12 pemberontak Timor Leste lainnya yang terlibat dalam percobaan sama, menyerahkan diri.

Dua Anggota Salsinha Ditahan di LP Bekora

Edition: 28 March 2008

DILI- Dua mantan anggota F-FDTL masing-masing, Avelino da Costa dan Paulo Neno, Selasa (25/3) malam, mendapat putusan dari Pengadilan Distrik Dili untuk penahanan sementara di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Bekora. Anggota Salsinha lainnya, Adolfo da Silva menjalani tahanan sementara di luar (Termus Identidade de Rezidensia-TIR).

Putusan atas dua anggota pemimpin pemberontak Letnan Satu (Lettu) Gastao Salsinha itu diambil hakim internasional Maria Das Dores.

Kuasa Hukum ketiga terdakwa Benevides Correia Barros yang dihubungi koran ini via telepon selularnya di Dili, Rabu (26/3) kemarin, membenarkan bahwa dua kliennya mendapat putusan penahanan sementara di LP Bekora dan satu lainnya menjalani tahanan di luar rumah dalam status TIR. Sedangkan Nelson Galucho masih dalam proses investigasi.

Berdasarkan pengamatan koran ini menunjukan bahwa proses hearing (dengar pendapat) yang digelar di Pengadilan Tinggi (PT) Kaikoli, mendapat pengawalan ekstra ketat dari satuan UIR (Unidade Intervensaun Rapida) dan GNR (Guarda Nacional Republikana).

Dikatakan, dua terdakwa yang mendapat putusan penahanan sementara di LP Bekora diduga kuat terlibat dalam kasus percobaan pembunuhan ganda atas Presiden Republik Jose Ramos Horta dan Perdana Menteri (PM) Xanana Gusmao pada 11 Pebruari lalu di Metiaut dan Balibar-Dili. Sedangkan seorang terdakwa lainnya diduga terlibat dalam insiden Fatu Ahi, 23 Mei 2006 silam.

Keempat anggota Salsinha itu menyerahkan diri kepada aparat kepolisian Sub Distrik Maubessi, Distrik Ainaro, Sabtu (23/3) lalu. Mereka menyerahkan diri dengan seragam militer dan 3 pucuk senjata laras panjang, diantaranya satu pucuk senjata jenis Metra, HK-33 (1) dan FNC.

Senjata terrsebut langsung diserahkan kepada Panglima F-FDTL Brigadir Jendral Taur Matan Ruak, PM Xanana Gusmao dan Inspektur Mateus Fernandes.

Menurut PM Xanana, pilihan anggota Salsinha untuk menyerahkan diri sangat membantu menyelesaikan masalah mereka, juga dapat membantu mengakhiri pasang-surutnya stabilitas keamanan dalam negeri yang dampaknya dirasakan rakyat kecil.

Karena itu, Xanana berpesan kepada Saslsinha dan anggota lainnya untuk mengikuti jejak yang telah ditunjukan Amaro da Costa alias Susar dan kawan-kawan. Dengan demikian, 6 dari 31 anggota Salsinha sudah menyerah. Sedangkan Salsinha dan anggota lainnya masih buron. Pemerintah sudah memberi lampu hijau kepada Komando Operasi Bersama untuk menembak Salsinha dan anak buahnya. arm

sumber : http://suaratimorlorosae.com

23/03/08 00:42

Empat Buronan Timor Leste Serahkan Diri

Dili (ANTARA News) – Empat tentara pemberontak yang dicari karena terlibat penyerangan terhadap para pemimpin Timor Leste, telah menyerah, kata Perdana Menteri, Xanana Gusmao, Sabtu.

Dia mengatakan kelompok itu menyerahkan diri di kantor polisi Maubesi, Aileu, sebelah tenggara ibu kota, Dili, Sabtu pukul 12:00WIB.

“Saya berterima kasih kepada semua yang sudah menyerah. Mereka menerima tanggung jawab atas apa yang sudah mereka lakukan,” kata Xanana, yang berdiri berdampingan dengan para pembelot di istana pemerintah di Dili.

“Mereka (telah) menjadi contoh yang baik untuk Salsinha,” katanya, merujuk pada Gastao Salsinha, yang berada di urutan teratas sebagai orang yang paling dicari akibat serangan pada bulan lalu itu.

Salsinha diyakini sebagai tangan kanan pemimpin pemberontak, Mayor Alfredo Reinado, yang bersama kelompoknya menyerang Gusmao dan Presiden Jose Ramos-Horta pada 11 Februari.

Reinado dan seorang anak buahnya tewas saat menyerang kediaman Ramos-Horta. Presiden Timor Leste itu luka berat, sedangkan Gusmao yang diserang saat berkonvoi, lolos tanpa terluka.

Salah satu dari empat yang menyerah, Adolfo Dos Santos seperti dilaporkan AFP, mengaku dirinya terlibat dalam serangan terhadap presiden.

“Benar, saya pelakunya,” katanya setelah Gusmao bertanya apakah dirinya ambil bagian dalam serangan itu.

Pihak berwenang telah menerbitkan 23 surat perintah penahanan bagi tentara pembelot yang dituduh ikut dalam serangan tersebut.

Panglima angkatan bersenjata, Taur Matan Ruak, telah menyebut bahwa Salsinha dan sebagian besar anak buahnya bersembunyi di suatu daerah di sebelah tenggara Dili.

Militer dan polisi Timor Leste, yang dibantu pasukan stabilisasi internasional pimpinan Australia, terus melakukan pengejaran dan hingga kini delapan pemberontak yang menyerah.

Pasukan internasional dikirim ke Timor Leste pada tahun 2006 setelah terjadi perseteruan antara faksi-faksi tentara dan polisi yang meningkat menjadi kerusuhan jalanan. Sebanyak 37 orang tewas dalam kekerasan tersebut. (*)

COPYRIGHT © 2008

Seorang Anak Buah Reinado Diperiksa
Senin, 17 Maret 2008 | 17:42 WIB

TEMPO Interaktif, Dili: Pengadilan Distrik Dili, Timor Leste, hari ini memeriksa Inacio Maia da Concecao, anak buah pemimpin pemberontak Alfredo Reinado. Maia kini dikenai tahanan rumah.

Maia selama ini bergabung dengan penganti Reinado, Gastao Salsinha. Dia ditangkap pada 12 Maret lalu di pegunungan Letefoho, Distrik Ermera. Ia didakwa terlibat dalam kasus penyerangan terhadap tentara Timor Leste di Fatuahi pada 2006 dan perampasan senjata polisi di perbatasan.

Pengadilan yang dipimpin hakim internasional Ivo Roza Baptista dan jaksa penuntut umum Felismino Cardoso memeriksa keterlibatan Inacio dalam beberapa kasus. Dia didakwa dua terlibat dalam pembunuhan berencana, pembunuhan dan perampasan alat negara. Bila terbukti, dia dapat dihukum 25 tahun penjara.

Menurut Jaksa Felismino Cardozo, acara pemeriksaan ini untuk mengambil keterangan saksi atas keterlibatannya dalam kasus Fatuahi yang terkait dengan kasus penembakan Presiden Jose Ramos Horta pada 11 Februari lalu.

Dalam acara pemeriksaan, Maia mengakui terlibat dalam penyerangan tentara dan perampasan senjata. “Saya tidak tahu apakah Maia terlibat dalam kasus penembakan Horta atau tidak, tetapi yang jelas masih ada kelanjutan investigasi,” ungkap Felismino.

Sementara itu, Jaksa Agung Timor Leste Longinhos Monteiro hari ini melawat ke Australia untuk menjenguk Presiden Horta. Longinhos juga akan mengambil keterangan Horta soal kasus penyerangan pada 11 Februari.

JOSE SARITO AMARAL (DILI)(www.tempointeraktif.com)

Xanana ke Jakarta Bulan Depan
Senin, 17 Maret 2008 | 17:37 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao akan melakukan kunjungan kenegaraannya ke Indonesia bulan depan.

“Ia mungkin tiba di Jakarta pada 20 atau 21 April,” kata Angela, sekretaris pribadinya, kepada Tempo melalui telepon selulernya hari ini. Ia menambahkan, lawatan itu akan berlangsung tiga hari.

Sebelumnya, Xanana menjadwalkan kunjungannya bulan lalu. Namun itu ditunda lantaran peristiwa penembakan yang dilakukan kelompok tentara pemberontak yang dipimpin Mayor Alfredo reinado Alves.

Insiden itu menyebabkan Presiden Jose Ramos Horta terpaksa dirawat di Rumah Sakit Royal Darwin, Australia. Sedangkan Xanana selamat tanpa luka.(www.tempointeraktif.com)

11 Feb 2008 14:28:00 WIB

Timor Leste Bergejolak

Presiden dan Perdana Menteri jadi sasaran Tembak

Timur Leste bergolak. Sejak lepas dari Indonesia pada 1999, keadaan Timor Leste salalu jadi bahan pembicaraan berbagai kalangan. Perpecahan di dalam kubu kubu politik menjadikan negara ini sebagai negara yang penuh dengan pertumpahan darah. Puncakya adalah saat penembakan yang terjadi atas Presiden Timor Leste Ramos Horta dan Perdana Menteri Xanana Gusmao merupakan insiden mengejutkan. Insiden yang terjadi pada 11 Februari ini dilakukan oleh Alfredo Reinado Alves.

Aksi yang dilancarkan oleh Alfredo ini telah berhasil melukai Presiden Timor Leste Ramos Horta. Dua peluruh telah singgah didalam perunya. Dan untuk menyelamatkan kondisi tersebut, Ramos Horta segera di larikan ke rumah sakit yang berada di Australia dan berhasil diselamatkan. Sementara Xanana Gusmao berhasil lolos dari maut yang dilancarkan kepadanya.

Sebenarnya Alfredo bukanlah orang asing bagi Ramos Horta dan Xanana Gusmao, karena Alfredo adalah mantan kepala polisi militer Falintil-Forcas da Defesa de Timor-Leste atau Falintil-FDTL. Pada tahun 2006, Alfredo bersama 600 pengikutnya melakukan desersi. Atas perintah Perdana Menteri Mari Alkatiri, mereka kemudian dipecat. Kemarahan atas pemecatan massal itu membuat mereka melakukan perlawanan. Bentrokan pun tak terhindarkan.

Akibat aksi yang dilakukan oleh Alfredo ini sejumlah orang terbunuh dan sekitar 150 ribu warga mengungsi. Atas terbunuhnya sejumlah warga sipil dan polisi itu Alfredo menjadi buronan pemerintah.

Meski Alfredo telah keluar dari persembunyian dan menyerahkan sejumlah senjata yang dimiliki, namun ia tetap harus masuk penjara karena alasan menyembunyikan senjata. Karena berbagai upaya hukum telah dilakukan dan semuanya tidak menampakkan hasil, bahkan dirinya dan anak buahnya terancam untuk di bunuh, akhirnya Alfredo melakukan aksi balas dendam dengan membunuh tokoh penting Timor Leste.

Perang saudara telah mewarnai perjalanan di negara Timor Leste. Rasa sakit hati, dendam dan merasa dikhianati telah merasuk dalam beberapa elemen politik yang di bangun di negara tersebut. Sampai kapan kegelidahaan masyarakat Timor Leste akan berakhir. Tentunya hanya elite politik Timor Leste yang hany bisa menyelesaikanya. Karena Indonesia tidak berhak untuk mengitervensi apa yang terjadi di negara tersebut.

Pasca Tragedi Penembakan Presiden Timor Leste
Buntut kejadian itu, Departemen Urusan Luar Negeri dan Perdagangan Australia (DFAT) kembali mengeluarkan travel warning untuk Timor Leste. Seluruh warga Australia diingatkan untuk mempertimbangkan kembali niat mereka pergi ke negara itu.

Sementara itu, Tentara Nasional Indonesia (TNI) juga turut meningkatkan pengamanannya di perbatasan RI dengan Timor Leste. Termasuk melakukan pengamanan terhadap WNI yang tinggal di negara tersebut beserta aset-aset yang dimiliki oleh Indonesia. Yang pasti terjadinya insiden tersebut tidak berdampak pada keamanan warga negara Indonesia di Timor Leste. Karena menurut Menlu untuk Timor Leste situasi di negara tersebut sudah terkendali.

Meski situasi di Timor Leste sudah terkendali, pemerintah Australia tetap akan mengirimkan tambahan tentara dan polisi ke Timor Leste. Sekitar 200 personel militer dan polisi Australia akan dikirim untuk memperkuat pasukan Australia di Timor Leste. (ida)

Gambar: http://www.weltrekordreise.ch

Sumber: CBN

Brisbane, 10 Maret 2008 10:58

Xanana Temui Ramos-Horta di Darwin

Perdana Menteri (PM) Timor Leste Xanana Gusmão tiba di Darwin, negara bagian Northern Territory (NT), Australia, Senin (10/3), untuk membezuk Presiden José Ramos-Hort`a di Rumah Sakit Royal Darwin.

Kedatangan PM Gusmão untuk menjenguk Presiden Ramos-Horta yang masih dalam proses penyembuhan dari luka tembak yang dideritanya dalam insiden serangan kelompok gerilyawan pimpinan Alfredo Reinado di Dili 11 Februari lalu itu terjadi seminggu setelah Horta memaafkan Reinado.

Mengutip keterangan seorang juru bicara pemerintah Timor Leste, ABC menyebutkan, PM Gusmão didampingi istrinya, Kirsty Sword-Gusmão, selama di Darwin.

Presiden Ramos-Horta pada 3 Maret lalu telah memaafkan Alfredo Reinado dan meminta pemerintah mendukung keluarga pemimpin kelompok gerilyawan yang tewas dalam upaya pembunuhan terhadap dirinya di Dili 11 Februari lalu itu.

Pemberian maaf Presiden Ramos-Horta kepada Alfredo Reinado itu diungkapkan Presiden Sementara Timor Leste, Fernando `Lasama` de Araujo setelah menjenguk Horta di RS Royal Darwin.

Selain memaafkan, Presiden Ramos-Horta juga meminta pemerintah Timor Leste untuk mendukung keluarga Alfredo Reinado, katanya.

Presiden Ramos-Horta terluka dalam insiden serangan di rumah kediamannya di Dili 11 Februari lalu. Serangan terpisah juga dilancarkan anggota kelompok gerilyawan tentara yang membelot pimpinan Alfredo Reinado terhadap PM Xanana Gusmão.

Namun PM Xanana Gusmão selamat tanpa cidera apa pun sedangkan Presiden Ramos-Horta selamat dengan dua luka tembak. Ia pun terpaksa dievakuasi dari Dili ke Rumah Sakit Royal Darwin untuk menjalani perawatan intensif sejak 11 Februari malam.

Perhatian Australia
PM Australia, Kevin Rudd, memberikan perhatian besar pada insiden serangan terhadap kedua pemimpin Timor Leste itu ditandai dengan kunjungan singkatnya ke ibukota negara itu pada 15 Februari .

PM Rudd bahkan juga menyempatkan diri menjenguk Presiden Ramos-Horta di Rumah Sakit Royal Darwin, Northern Territory. Saat ditengok, Presiden Horta masih dalam kondisi koma.

Rudd menyebut Presiden Ramos-Horta sebagai `seorang pejuang` dan ia berjanji kembali menengok kepala negara Timor Leste itu jika kondisi kesehatannya telah mulai membaik.

Dalam kunjungan singkatnya di Timor Leste 15 Februari itu, PM Rudd tidak hanya bertemu PM Gusmão tetapi juga pemimpin Partai Fretilin Mari Alkatiri.

Dalam pertemuan dengan PM Xanana Gusmão, PM Rudd mendiskusikan masalah kerja sama kedua negara di bidang ekonomi, seperti pembangunan infrastruktur, penyediaan lapangan pekerjaan bagi para pemuda serta pembangunan perdesaan.

Ia mengakui pentingnya penyediaan lapangan kerja bagi para pemuda Timor Leste selain dukungan di bidang keamanan.

Dukungan Australia pada Timor Leste akan tetap ada baik di masa baik maupun sulit karena negara itu adalah sahabat baik Australia, kata PM Rudd.

Kunjungan singkat PM Rudd pada 15 Februari itu terjadi sehari setelah jasad Alfredo Reinado dimakamkan di Dili. Kunjungan tersebut adalah kunjungan kedua Rudd sejak ia menduduki kursi PM Australia.

Untuk membantu pemulihan keamanan dan ketertiban di Timor Leste, Australia juga telah mengirimkan sedikitnya 270 tentara dan polisi tambahan ke negara itu.

Insiden serangan 11 Februari dini hari lalu semakin memperpanjang peristiwa berdarah yang mendera negara kecil tetangga Indonesia dan Australia itu sejak 2006 lalu.

Pertikaian berdarah itu setidaknya telah menewaskan 37 orang dan mengakibatkan 155 ribu warga meninggalkan rumah-rumah mereka. Pemerintah Timor Leste pun meminta bantuan tentara asing untuk memulihkan stabilitas. [www.gatra.com]

22/02/08 09:18

Pemerintah Timor Leste Minta Keadaan darurat Diperpanjang 30 Hari

Dili (ANTARA News) – pemerintah Timor Timur meminta pemangku jabatan presiden memperpanjang keadaan darurat selama 30 hari lagi, yang dipicu serangan pemberontak terhadap dua pemimpin tertinggi negara itu, kata pernyataan pemerintah, Kamis.

“Dewan Menteri memutuskan meminta pemangku jabatan presiden republik ini memperpanjang keadaan darurat dengan 30 hari lagi,” katanya tanpa menyebutkan alasannya.

Keadaan darurat itu semula diberlakukan akibat percobaan pembunuhan atas Presiden Jose Ramos-Horta dan Perdana Menteri Xanana Gusmao pada 11 Februari.

Aturan itu diperpanjang dua hari kemudian untuk 10 hari dan keadaan darurat saat ini akan berahir pada 23 Februari.

Dalam keadaan darurat, jam malam diberlakukan dan perkumpulan serta unjukrasa dilarang.

Ramos-Horta, penerima penghargaan Nobel perdamaian, menderita beberapa luka tembak akibat penyerangan di tempat tinggalnya, yang menewaskan pemimpin pemberontak Alfredo Reinado, sementara Xanana lolos tanpa cedera dariserangan terpisah.

Ketakutan awal akan kerusuhan oleh pendukung muda Reinado tak terbukti, tapi perburuan oleh tentara asing serta polisi Perserikatan Bangsa-Bangsa dan polisi negara atas 17 pemberontak, yang dituduh terlibat dalam serangan itu, berlangsung.

Kepolisian Timor Timur menahan lebih dari 200 orang pelanggar undang-undang darurat itu, kata polisi di Dili pada Senin.

Pasukan polisi bersama pasukan asing dan angkatan bersenjata Timor Timur melancarkan gerakan terhadap pemberontak, yang diyakini terlibat dalam upaya pembunuhan pada pekan sebelumnya itu.

Mateus Fernandes, komandan gerakan kepolisian, mengatakan kepada kantor berita Inggris Reuters bahwa 200 orang ditahan akibat melanggar jam malam, termasuk tentara sedang mengendarai mobil dan motor pada malam hari.

“Lebih dari 200 orang ditahan oleh polisi untuk diperiksa. Mereka tidak mematuhi peraturan negara dan berjalan-jalan di sekitar kota pada waktu jam malam,” kata Fernandes.

Negara terbaru Asia itu tak mampu mengatasi kekacauan keamanannya sejak merdeka. Dili mengalami kekacauan pada 2006 ketika sekitar 600 tentara dipecat, yang memicu kerusuhan antar-kelompok, yang menewaskan 37 orang dan menyebabkan 150.000 orang mengungsi.

Pasukan asing diperlukan untuk memulihkan tatanan di negara bekas jajahan Portugis dan berpenduduk sekitar satu juta orang itu, yang mendapatkan kemerdekaan dari Indonesia pada 2002, setelah penentuan pendapat rakyat, yang ditaja Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 1999 dan dikotori kekerasan.

Pemangku jabatan presiden Timor Timur pada tengah pekan lalu menyatakan secara resmi menyetujui perpanjangan keadaan darurat itu.

“Saya menyetujui dan secara resmi mengumumkan perpanjangan keadaan darurat, seperti diusulkan pemerintah, selama 10 hari sampai 23 Februari,” kata Fernando de Araujo, ketua parlemen, kepada kantor berita Prancis AFP.

Xanana meminta perpanjangan itu dan parlemen menyetujuinya.

Ia menyatakan larangan itu bertujuan “menjaga ketenteraman”.

Xanana beberapa jam sesudah kejadian itu mengumumkan keadaan darurat akan diberlakukan di seluruh negeri sedikit-dikitnya 48 jam.

Jam malam itu “mencabut hak bergerak bebas, yang berarti bahwa orang tidak dapat berjalan-jalan berkeliling dan setiap orang harus tetap tenang di rumah dari pukul delapan malam”, kata Xanana dalam pernyataan tertulisnya.

“Kami akan tetap bersama secara tenang dalam menanggulangi masalah ini,” kata Xanana. (http://www.antara.co.id)

COPYRIGHT © 2008

1 Komentar

  1. Dude..i like your blog…
    The flag look cool….


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Kalender

    • Desember 2016
      S S R K J S M
      « Feb    
       1234
      567891011
      12131415161718
      19202122232425
      262728293031  
  • Cari